Gunung Marapi Di Sumatera Barat Erupsi
Dalam tragedi banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, angka korban berkembang cepat dan mencengangkan:
- 744 jiwa meninggal (BNPB, 3 Desember 2025)
- 583 jiwa meninggal (Basarnas, data temuan lapangan)
- 551–553 orang hilang
- 2.564 luka-luka
- 1,1 juta mengungsi
- 3,3 juta terdampak
Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah wajah-wajah yang tercabut dari rumahnya, orang-orang yang menatap tenda pengungsian sebagai tempat bertahan hidup, dan keluarga yang menunggu kabar terakhir dari nama yang belum ditemukan.
Medan yang berat—lumpur sedalam dada, curah hujan ekstrem, dan infrastruktur yang rubuh—membuat operasi penyelamatan kerap terhenti. Sumatera seperti tenggelam dalam kegelapan alam yang tak kunjung menyingkir.
Namun sebelum luka itu mengering, dari arah lain gunung mulai berdehem.
Marapi di Level Waspada: Ancaman dari Puncak yang Tak Pernah Tidur
Dalam dokumen aktivitas terbaru, Gunung Marapi berada pada Level II (Waspada). Dengan rekomendasi tegas: radius 3 km dari Kawah Verbeek harus steril dari aktivitas manusia.
Letusan Marapi tidak pernah jinak. Letusan 3 Desember 2023 masih segar dalam ingatan:
- Kolom abu menjulang 3.000 meter
- 75 pendaki terjebak
- 23 pendaki meninggal dunia
- Hujan abu memutus jarak pandang, merusak tanaman, dan memaksa kota-kota sekitar menutup aktivitas outdoor
Marapi adalah gunung yang erupsinya sering freatik—meletus tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa sinyal seismik panjang. Itulah yang membuatnya berbahaya: ia menguji kesiapan, bukan kesabaran.
Dua Bencana, Satu Benang Merah: Curah Hujan Ekstrem & Degradasi Lingkungan
Meski banjir dan erupsi adalah dua jenis bencana berbeda, keduanya disatukan oleh pola yang mengkhawatirkan.
1. Curah hujan ekstrem menjadi pemicu ganda
- Hujan memicu banjir bandang dan longsor.
- Hujan juga dapat memicu erupsi freatik Marapi ketika air masuk ke sistem vulkanik dan menguap secara eksplosif.
- Hujan pasca-erupsi berpotensi melahirkan lahar dingin, ancaman baru bagi desa-desa yang sudah terdampak banjir sebelumnya.
Dengan kata lain, air menjadi aktor tunggal yang memainkan dua tragedi pada dua panggung berbeda.
2. Degradasi bentang alam memperparah semuanya
- Deforestasi di hulu bukit mempercepat banjir.
- Alih fungsi lahan di lembah meningkatkan risiko longsor.
- Sedangkan di kaki Marapi, padatnya pemukiman membuat satu erupsi kecil pun bisa bertransformasi menjadi bencana sosial.
Sumatera kehilangan penyangga alamnya. Dan ketika penyangga hancur, bencana tak lagi datang satu per satu. Mereka datang beriringan.
Dampak Berlapis: Ketika Pengungsian Bersinggungan dengan Ancaman Abu & Lahar
Warga yang mengungsi akibat banjir kini berhadapan dengan risiko baru:
- Abu vulkanik dapat memperburuk penyakit pernapasan di tempat pengungsian.
- Material erupsi Marapi yang menumpuk di puncak bisa terbawa hujan ke sungai-sungai yang telah meluap sebelumnya—mengubahnya menjadi aliran lahar dingin.
- Jalur evakuasi yang sudah rusak oleh longsor akan semakin sulit diakses jika Marapi mengalami erupsi susulan.
Dua bencana itu bukan hanya saling terkait; keduanya saling memperparah.
Polemik Status Bencana Nasional dalam Konstelasi Ancaman Ganda
Desakan penetapan Bencana Nasional atas banjir dan longsor tak lepas dari besarnya korban dan kerusakan. Namun kini pemerintah juga harus mempertimbangkan situasi vulkanik Marapi.
Apakah negara menunggu situasi semakin memburuk sebelum menyatukan bencana-bencana ini dalam satu kerangka penanganan terpadu?
Sebab logikanya jelas:
- Sumatera menghadapi bencana multi-ancaman (multi-hazard).
- Intervensi lintas sektor seharusnya lebih agresif.
- Kapasitas daerah jelas sudah melampaui batas.
Pertanyaannya:
Apakah status sebuah bencana tidak seharusnya mempertimbangkan risiko lanjutan, bukan hanya kerusakan yang telah terjadi?
Penutup: Sumatera Menghadapi Dua Wajah Murka Alam
Banjir dan longsor menghantam dari bawah.
Marapi mengingatkan bahaya dari atas.
Di antara keduanya, jutaan warga berdiri di tengah, menggigil antara air dan api.
Dari tragedi ini, kita belajar bahwa bencana alam tidak pernah berdiri sendiri. Mereka saling menjawab, saling memicu, dan saling memperumit. Maka, mitigasi tidak boleh berjalan parsial—ia harus menyentuh hulu, hilir, dan puncak.
Karena Sumatera tak hanya membutuhkan bantuan. Ia membutuhkan keberanian politik, perbaikan lingkungan, dan sistem peringatan yang setara dengan amarah alam yang sedang bangkit.
Dan bila kita gagal membaca dua tanda besar ini, sejarah mungkin akan mencatat bahwa Sumatera pernah berteriak dua kali—dan kita tak cukup cepat menjawabnya.
